Agun Gunandjar Sudarsa

Untuk DPR Bersih dan Indonesia Lebih Baik
You voted 5. Total votes: 392
Sunday, November 9, 2014

Melawan Oligarki dan Nepotisme untuk Selamatkan GOLKAR, Harus Dengan Keberanian dan Kebersamaan

Diposting oleh: 
Editor

LIVE MetroTV , 31 Oktober 2014

Sejumlah kader Partai GOLKAR menggerakkan pentingnya regenerasi di kepemimpinan GOLKAR, alasanya adalah Ketua Umum Partai GOLKAR Aburizal Bakrie diduga kuat akan maju kembali dalam Musyawarah nasional (Munas) GOLKAR ditengah kegagalan GOLKAR menjadi pemenang Pemilu baik Pileg maupun Pilpres. Sejauh manakah urgensi regenerasi kepemimpinan GOLKAR?  Kami akan membahasnya bersama dua narasumber yang telah hadir yaitu Politisi Partai GOLKAR Agun Gunandjar Sudarsa (AGS) dan Pengamat Politik Hanta Yuda.

MetroTV              : Mas Agun, Apa urgensi regenerasi di tubuh Partai GOLKAR?

AGS                    : Regenerasi yang kami gagas ini ada enam orang, kami berdiskusi panjang lebar memiliki keprihatinan yang sama yaitu Hajriyanto Tohari, Airlangga Hartarto, Zainuddin Amali, Melky Mekeng, Ridwan Mukti dan saya. Kami berkeyakinan bahwa regenerasi itu suatu keniscayaan karena kita melihat Pemilu 2019 yang akan datang secara populasi dan karateristik pemilih sudah jauh berbeda. Orde reformasi ini sudah berjalan kurang lebih 15 tahun, pemilih sudah belajar banyak dari proses Pileg, Pilpres, Pilkada tentang politik dan kepemimpinan. Melihat turbelensi politik yang terjadi di Partai GOLKAR saat ini, kalau tidak terjadi regenerasi kepemimpinan, menurut peneliti lembaga survei  mengatakan perolehan suara Partai GOLKAR pada 2019 sekitar 7-9%.   

Kami yang saat ini berada di dalam GOLKAR tidak ingin menjadi bagian dari sejarah yang membiarkan Partai GOLKAR hancur berantakan. Sebagai partai besar, GOLKAR pernah punya sejarah gemilang menghadapi turbelensi politik. Pada Pemilu 1999 GOLKAR menghadapi tekanan publik tapi kita bisa survive dan jadi pemenang kedua, bahkan di Pemilu 2004 kami menjadi pemenang Pemilu. Tapi di Pemilu 2009 sampai dengan Pemilu 2014 sekarang suara GOLKAR tinggal 14,7%. Inilah yang kami maksud dengan karakteristik pemilih sudah berubah di orde reformasi ini. Dengan metode pemilihan secara langsung, rakyat mengkehendaki calon yang penampilannya, sosoknya  (latar belakang), karakternya dan gaya bahasanya nyambung dengan rakyat (mewakili).

Pada posisi tersebut, seorang Ketua umum (Ketum) Parpol (Partai Politik) harus berperan dan berfungsi untuk mewakili “wajah” partainya. Memimpin Parpol juga harus memiliki semangat untuk meraih posisi tertinggi di pemerintahan (Presiden), Sebagai ukuran, saya saat ini usia 56 tahun maju sebagai ketua umum dan terpilih, lalu menjadi calon presiden di Pemilu 2019 ( Pileg-Pilpres serentak) dengan usia 61 tahun, siapa yang mau memilih?

MetroTV             : Mas Hanta, benarkah yang disampaikan oleh Mas Agun tentang GOLKAR yang akan hancur jika tidak regenerasi?

Hanta Yuda         : Persis. Jadi kalau semua kader GOLKAR berpikir seperti Pak Agun, GOLKAR pasti cerah prospeknya. Kalau mayoritas kader berpikir paradigma seperti Pak Agun ini GOLKAR peluangnya sangat besar. Tapi sebaliknya, jika mayoritas kader berpikir tidak perlu regenerasi kepemimpinan maka GOLKAR dalam bahaya. Captive Market (ceruk/pangsa pasar) Partai GOLKAR yang menjadi kekuatan atau basis utama adalah generasi masa lalu (orde baru) yaitu pemilih usia 50 tahun keatas, padahal generasi produktif yang eksis pada saat ini adalah generasi yang tumbuh di era reformasi (orde reformasi) dan itu merupakan posisi lemah GOLKAR.

Kalau kita analisa GOLKAR menggunakan perolehan kursi di parlemen, 2004 ada 128 kursi, 2009 ada 107 kursi dan 2014 sekarang 91 kursi itu adalah penurunan. Generasi era reformasi saat ini punya perpektif yang berbeda dalam melihat politik. Padahal kekuatan GOLKAR bukan di generasi era reformasi, tapi generasi warisan masa lalu (orde baru). Maka ketika pemimpinnya masih membawa dan menggunakan paradigma lama maka ini mengantarkan GOLKAR pada posisi terancam.

Diluar itu, GOLKAR juga memiliki karakteristik faksional di internalnya yang potensial menjadi masalah. Sehingga kedepan GOLKAR membutuhkan figur-figur bukan sekedar muda dan nyambung dengan generasi baru tetapi juga memiliki sifat demokratis yang kuat untuk menjaga soliditas partai.

Bicara tentang GOLKAR sejak Pemilu di era reformasi, GOLKAR adalah partainya parlemen artinya dominan di parlemen tapi belum pernah unggul di kepresidenen , ini yang harus dipikirkan GOLKAR sebagai partai besar melalui pemilihan figur  ketua umumnya sebagai simbol. Secara kriteria menurut saya Pertama, Ketum GOLKAR kedepan sebaiknya tidak memiliki beban masa lalu karena itu menjadi beban organisai partai. Kedua, figur Ketum sebaiknya bukan berasal dari kalangan pengusaha/pebisnis lagi. Ketiga, figur Ketum memiliki kemampuan dan daya tarik untuk mendongkrak elektabilitas GOLKAR di pemilu.

Figur seperti kriteria di atas adalah figur yang memiliki prospek dimata rakyat. Dalam konteks internal organisasi mampu mengelola turbolensi faksionalisme, dalam konteks eksternal mampu membuat “ceruk  baru” (pangsa pasar baru), karena ceruk lama GOLKAR semakin tertutup perjalanan waktu.

MetroTV             : Apakah GOLKAR yang sudah berusia 50 tahun memiliki mayoritas kader yang memiliki semangat yang sama dengan Mas Agun yaitu melakukan regenerasi?

AGS                   : Gerakan yang kami lakukan ini, sudah kami sampaikan kepada Pak Akbar Tanjung Ketua Dewan Pertimbangan Partai GOLKAR , beliau memberi dukungan. Dan pasca kegiatan kami para inisiator melakukan deklarasi pada 30 Oktober 2014 lalu pesan ke handphone saya penuh dengan sikap mendukung dari kader-kader lain.

MetroTV              : Jadi indikatornya dari banyaknya pesan dukungan yang masuk?

AGS                       : Tidak sebatas itu, saya di parlemen banyak anggota – anggota dewan yang juga berpikiran yang sama , hanya memang mengekspresikannya beda-beda. Dengan kekuasaan yang berkaitan dengan kedudukan, orang jadi takut kehilangan (posisi). Karena dalam kepemimpinan yang berlangsung saat ini, orang yang berbeda pendapat bisa di pecat.

MetroTV             : Jadi menurut anda banyak orang yang mendukung tapi tidak berani untuk tampil ke depan?

AGS                   : Banyak sekali. Karenanya kami memulai gerakan ini untuk sampai di Munas nanti.

MetroTV              : Apa keinginan regenerasi ini sudah lama atau baru muncul saja?

 AGS                    : Kami melakukan ini untuk generasi berikutnya. Kami berpikir pada 50 tahun usia emas GOLKAR, pada posisi kami memiliki tanggung jawab moral terhadap generasi berikutnya, seperti di AMPG, AMPI dan masih banyak pemuda-pemuda yang memiliki kecenderungan hendak masuk ke Partai GOLKAR. Mereka harus diberikan visi , optimisme dan harapan bahwa rumah GOLKAR itu besar, kuat dan solid untuk mengantarkan mereka menjadi kader-kader terbaik untuk mengisi kepemimpinan nasional. Kalau pada periode kami ini tidak terjadi proses regenerasi kepemimpinan , jelas GOLKAR akan ditinggalkan mereka kader-kader muda dan ditinggalkan pemilih pada Pemilu 2019 nanti.

MetroTV              : Apa evaluasi terhadap kepemimpinan yang berlangsung saat ini?

 AGS                   : Saya termasuk yang terlibat penuh mengabdi pada partai. Pada 2009 saya sudah deklarasi tidak maju lagi sebagai Caleg di Pemilu 2014 karena sudah empat periode. Saya sampaikan kepada ketua umum bahwasanya saya mau maju lewat DPD dan berkeinginan menjadi pimpinan di lembaga negara, kalau tidak di DPD ke  MPR. Tapi direspon pada saat itu anda dibutuhkan di partai, maka majulah lagi saya sebagai Caleg dan terpilih melalui Pemilu 2014 lalu.

Secara totalitas saat itu saya yakini ketua umum sangat demokratis karena secara intense komunikasi berlangsung. Tapi pada perkembangan terakhir saya melihat hal itu berbalik , karena penentuan sebagai pimpinan lembaga negara dilakukan secara oligarki dan nepotisme. Memang sesuatu itu hanya bisa diketahui diakhir , sehingga kesimpulan saya saat ini kepemimpinan sekarang tidak bisa dipertahankan.

Regenerasi kepemimpinan nasional akan macet ketika kepemimpinan Parpol berjalan tidak demokratis (oligarki dan nepotisme). Tidak ada ruang bagi kader Parpol yang berprestasi, berdedikasi, loyalitas tinggi dan tidak tercela untuk mengisi jabatan – jabatan lembaga negara.  Solusinya, regenerasi kepemimpinan di GOLKAR harus dilakukan.

MetroTV             : Mas Hanta, dengan usia emas 50 tahun Partai GOLKAR, dinamika seperti ini sebenarnya menunjukan kedewasaan politik atau sebaliknya?

Hanta Yuda         : Saya mencoba menganalisa adakah rasionalisasi sebagai dasar untuk Pak Aburizal Bakrie layak maju kembali sebagai calon ketua umum periode 5 tahun ke depan tapi ternyata tidak bisa saya temukan. Justeru alasan rasional adalah untuk tidak mencalonkan diri kembali, Pertama tidak ada tradisinya sejak era reformasi ketua umum Partai GOLKAR menjabat dua periode. Kedua, tidak ada lonjakan drastis dalam perolehan suara GOLKAR, yang ada malah penurunan perolehan suara. Ketiga,  kepemimpinan saat ini tidak memenangkan hasil Pilpres bahkan ketua umumnya untuk menjadi calon presiden atau calon wakil presidennya pun tidak mampu. Atas dasar itu, menurut saya kepemimpinan yang sekarang harus dikoreksi karena kegagalannya.

Sebagai partai paling senior, proses demokratisasi di GOLKAR berjalan kencang dan juga memiliki warisan infrastruktur politik yang kuat, kalau dua itu dikombinasikan dengan regenerasi kepemimpinan yang memunculkan figur kuat dan mampu mendongkrak elektabilitas GOLKAR, maka hasilnya akan dasyat. Karena saya melihat GOLKAR secara mesin politik kuat tapi figur ketua umumnya yang belum ada yang kuat.

MetroTV              : Menurut Mas Agun, apakah ARB akan mendengar pesan regenerasi ini?

AGS                    : Melihat fenomena perubahan pemilih saat ini, saya yang berusia 56 tahun saja merasa sudah tidak layak (jual) untuk menjadi ketua umum yang juga berperan sebagai icon partai. Bagaimana yang usianya lebih tua dari saya?

MetroTV             : Mas Agun berbeda sikap dengan ketua umumnya, tidak takut di pecat dari keanggotaan?

AGS                   : Kenapa mesti takut. Aturan hukum apa yang saya langgar? AD/ART mana yang saya langgar? Saya sangat loyal pada partai dan bahkan mempertahankan keloyalan saya kepada partai agar tidak hancur di pemilu yang akan datang. Loyalitas saya kepada partai karena saya anggota partai yang punya kewajiban menyelamatkan partai.

MetroTV              : Tapi tidak loyal kepada ketua umumnya?

AGS                    : Kalau ketua umum dengan anggotanya berbeda itu wajar-wajar saja dalam demokrasi. Jangan hanya karena berbeda lalu main pecat-pecat sebagai anggota partai,  itu akan saya lawan.

Hanta Yuda         : Saya melihat Partai GOLKAR ini memang berbeda dengan partai lain. Kalau di PDIP ada sosok Ibu Mega sebagai pemersatu partai. Di Demokrat ada sosok Pak SBY. Tapi di GOLKAR dinamikanya tidak bergantung pada figur seseorang sehingga demokratisasinya kuat tapi jika tergantung pada figur maka akan menjadi kemunduran demokratisasi di GOLKAR.

Melengkapi kriteria yang tadi telah saya sampaikan, GOLKAR melalui Munas ini ada momentum untuk melakukan regenerasi kepemimpinan dan prospek di Pemilu 2019. Dengan cara yaitu memilih ketua umum yang bukan merupakan pejabat negara (pejabat publik). Sehingga figur ketua umum GOLKAR ini punya prospek untuk ditokohkan. Hal ini dilakukan oleh PDIP, 4 tahun yang lalu orang tidak mengenal Jokowi tapi sekarang semua kenal Jokowi. GOLKAR harus memikirkan strategi mencari figur yang seperti demikian sebagai ketua umumnya. 

MetroTV              : Selain pergantian ketua umum, agenda di Munas itu apa saja Mas Agun?

AGS                    : Agenda Munas itu jelas sudah ada di AD/ART , yang Pertama adalah menetapkan AD/ART yang baru dengan mereview kembali yang lama. Kedua, menyusun program kerja nasional, Ketiga memilih DPP (dewan pimpinan pusat) utamanya memilih ketua umum. Keempat, membuat keputusan-keputusan strategis , saya sedang merancang dalam gerakan regenerasi kepemimpinan harus ada keputusan Munas yang menyatakan tentang sistem regenerasi di GOLKAR, yang memberikan jaminan bahwa sumber kader GOLKAR yang ada di AMPG hari ini (usia 30-40 tahun) pada periode berikutnya harus memegang tongkat estafet kepemimpinan. Siapa yang akan memilih Partai GOLKAR kalau generasi mudanya tidak kita tampilkan ke rakyat?.

Dalam proses pemilihan ketua umum, kita dorong tidak aklamasi. Kalaupun ada aklamasi, kami akan pastikan bahwa itu tidak merupakan suatu rekayasa. Munas nanti harus melalui proses yang demokratis dan fair dengan membuka ruang bagi siapapun untuk berkompetisi. Melihat fakta saat ini, tidak mungkin aklamasi karena sudah ada tujuh calon. Bahkan mungkin bisa bertambah.

Hanta Yuda         : Saya kira saat ini GOLKAR harus berpikir tentang partainya/organisasinya, jangan berpikir tentang karir politik perorangan semata. Karena GOLKAR sebagai partai adalah aset demokrasi bangsa Indonesia. Dalam konteks ini, GOLKAR dan anggota-anggota didalamnya harus memikirkan betapa beratnya tantangan eksternalnya (perubahan pemilih) ditambah dinamika internalnya (faksionalisme) jelang Munas. Sebagai partai senior, GOLKAR harus mampu memberikan contoh demokrasi kepada publik dan partai-partai lainnya.

 

Skip Comments

Add new comment

Back to Top